ت Taubat
Halaman 1 dari 8

Tata Cara Bertaubat

Taubat bukan sekadar ucapan astaghfirullah. Ia punya urutan kerja yang jelas — dan bentuknya berbeda-beda tergantung jenis dosa yang dilakukan. Inilah langkahnya, disusun dari nasihat ulama tasawuf.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةٗ نَّصُوحًا

Yā ayyuhal-ladzīna āmanū tūbū ilallāhi taubatan naṣūḥā

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (taubatan nasuha).”

QS. At-Tahrim [66]: 8

Tiga Pilar yang Harus Ada

Para ulama menyepakati bahwa taubat yang sah berdiri di atas tiga hal. Bila satu saja tidak ada, taubat itu belum disebut taubat — hanya penyesalan setengah hati atau sekadar ucapan lisan. Ketiganya berasal dari penyesalan, penghentian, dan tekad, sebagaimana dirumuskan oleh Ibrahim bin Adham dan dikodifikasi oleh Imam Al-Ghazali.

  1. Nadam — menyesali perbuatan yang lalu

    Hati harus betul-betul menyesal atas dosa yang telah dikerjakan: penyesalan yang lahir dari kesadaran akan keagungan Allah dan takut kepada murka-Nya. Bukan penyesalan karena tertangkap, bukan karena nama baik rusak, dan bukan karena takut pada manusia.

  2. Iqlā‘ — berhenti saat ini juga

    Meninggalkan dosa itu sekarang, bukan besok atau setelah “sekali lagi”. Bertaubat sambil tetap mengerjakan dosa yang sama bukanlah taubat. Nabi ﷺ bersabda: orang yang meminta ampun namun masih mengerjakan dosanya itu seperti orang yang mengejek Tuhannya.

  3. ‘Azm — bertekad tidak mengulangi

    Mengikat hati dengan kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut. Manusia lemah dan boleh jadi tergelincir lagi — bila itu terjadi, ia bertaubat lagi. Yang menjadi syarat bukanlah tidak pernah jatuh, melainkan tekad yang tulus saat bertaubat.

  4. Memperbaiki hak yang terlanggar (bila ada)

    Bila dosa itu menyangkut hak orang lain, tiga pilar di atas belum cukup. Lihat bagian berikutnya.

Jangan tunda dengan alasan “percuma” Sebuah ibarat dalam kajian yang menjadi sumber situs ini: ada supir yang menolak mencuci mobil Kiai-nya di musim hujan dengan alasan “nanti kotor lagi”. Kiai membalas dengan ibarat perutnya sendiri: “Kalau makan nanti lapar lagi, sudah, tidak usah makan.” Jawab sang Kiai kepada supirnya: begitulah hidup — jangan sampai kita menolak bertaubat karena berpikir “nanti dosa lagi, percuma”. Berbuat dosa lalu bertaubat, berbuat dosa lagi lalu bertaubat lagi. Jangan bosan bertaubat selagi kita belum bosan berbuat dosa.

Bila Dosa Menyangkut Hak Orang Lain

Inilah poin yang sering dilewatkan. Dalam tasawuf ditegaskan: taubat dari dosa yang berkaitan dengan hak Allah cukup dengan penyesalan, penghentian, dan tekad. Tetapi dosa yang berkaitan dengan hak hamba menuntut penyelesaian hak itu — mengembalikan, meminta maaf, atau meminta kehalalan. Istighfar dan tangisan saja tidak melunasi.

Ibarat dalam kajian

Anda datang ke loket PLN lalu menangis tersedu-sedu di depan petugas. Apakah tagihan listrik jadi lunas? Tidak. Anda tidak perlu menangis — Anda perlu membayar. Sebaliknya, untuk dosa seperti mabuk atau berjudi, istighfar dan penyesalan sudah mencukupi, sebab haknya milik Allah semata.

Bentuk penyelesaian menurut jenis hak

Jenis dosaCara menuntaskan
Mengambil harta orang (mencuri, menipu, korupsi, utang yang belum dibayar) Kembalikan harta atau nilainya kepada pemiliknya. Jika pemilik sudah wafat atau tidak dapat ditemukan, salurkan kepada ahli warisnya; bila tetap tidak mungkin, sedekahkan atas nama pemilik dan niatkan melepas tanggungan.
Mencemarkan nama baik, menggunjing, menuduh tanpa bukti Minta maaf kepada yang bersangkutan dan perbaiki nama baiknya di tempat ia dicemarkan. Bila ditolak, teruskan permintaan dengan cara yang santun — bukan dengan menambah luka.
Menyakiti badan atau perasaan orang (memukul, menghina, memutus hubungan) Minta kehalalan/kerelaan, layani haknya, dan sambungkan kembali hubungan yang terputus.
Meninggalkan ibadah wajib: puasa Ramadan, zakat, salat Qadha puasa/salat yang ditinggalkan dan tunaikan zakat yang belum keluar. Ini yang dalam kajian disebut sebagai bentuk taubat paling langsung bagi dosa jenis ini.
Dosa kepada orang tua atau guru Minta maaf secara langsung, perbaiki khidmah, dan memperbanyak doa untuknya — terutama bila salah satunya telah wafat.
Dosa yang tidak menyangkut hak orang lain (maksiat pribadi, kelalaian, sikap batin) Cukup dengan tiga pilar: menyesal, berhenti, dan bertekad — diperkuat dengan istighfar dan amal saleh.

Perhatikan juga pesan Umar bin Khattab yang mantan “preman kelas kakap”, anaknya sendiri dibunuh, namun tidak seorang pun menyebutnya preman setelah taubat. Makamnya di samping Rasulullah ﷺ. Taubat memperbolehkan seorang hamba untuk dekat lagi. Sebab itu Allah berfirman fastaghfirūnī — “maka mohon ampunlah kepada-Ku”.

Taubat Menurut Jenis Dosa

Satu kunci penting: taubat itu berbeda-beda tergantung salahnya. Ada tindakan yang disebut taubat wajib (bila meninggalkan perkara wajib atau melakukan perkara haram) dan taubat sunnah (bila meninggalkan perkara sunnah atau mengerjakan yang makruh) — pembagian Ibnu Taimiyah.

Dosa kecil yang berulang

Saat tergelincir, segera istighfar dan menyesal. Jangan dijeda sampai menjadi kebiasaan, karena dosa kecil yang dipelihara akan menumpuk seperti bintik di cermin.

Dosa besar

Perlu taubat yang lebih berat: menghentikan sama sekali, menyelesaikan hak yang berkaitan, dan memperbanyak amal penghapus seperti salat, sedekah, serta istighfar panjang.

Makruh dan hal yang berlebihan

Tingkatan tasawuf menuntut taubat dari perbuatan makruh, bahkan dari berlebihan dalam hal yang mubah. Satu detik lupa kepada Allah pun dianggap cacat bagi al-muqarrabīn.

Kelalaian batin

Inilah taubat tingkat khawas: menyesali iri, kesombongan, riya, cinta dunia berlebihan, dan kelalaian mengingat Allah.

Salat Taubat

Salat taubat adalah salat sunnah yang dikerjakan sebagai sarana memohon ampunan Allah, dianjurkan dikerjakan setelah seseorang sadar dan memutuskan kembali. Waktunya kapan saja, kecuali pada waktu-waktu yang terlarang untuk salat (saat matahari terbit, tepat di tengah hari, dan saat terbenam).

Cara mengerjakannya

  1. Bersuci

    Berwudhu, mengenakan pakaian yang suci dan menutup aurat, serta menghadap kiblat dengan tenang.

  2. Niat

    Niat di dalam hati saat takbiratul ihram: menyengaja salat sunnah taubat karena Allah.

    أُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

    Uṣallī sunnatat-taubati rak‘ataini lillāhi ta‘ālā

    “Aku salat sunnah taubat dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

    Niat dibaca di hati, tidak dilafalkan menurut pendapat yang lebih kuat pada mazhab Syafi‘i
  3. Dua rakaat dengan khusyuk

    Setelah al-Fatihah, dianjurkan membaca ayat kursi atau surat pendek pada rakaat pertama dan al-Ikhlas atau surat pendek lain pada rakaat kedua. Boleh juga menambahkan sebanyak mungkin rakaat dalam kelipatan dua, dengan salam setiap dua rakaat.

  4. Bersimpuh, beristighfar, dan berdoa

    Setelah salam, perbanyak istighfar dengan hati yang hadir, akui dosa di hadapan Allah, lalu tutup dengan doa taubat dan sedekah bila mampu.

Doa setelah salat taubat

اَللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Allāhumma innī ẓalamtu nafsī ẓulman katsīran wa lā yaghfirudz-dzunūba illā anta, faghfir lī maghfiratan min ‘indika warḥamnī, innaka antal-ghafūrur-raḥīm

“Ya Allah, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau. Ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Doa yang diajarkan Nabi ﷺ (diriwayatkan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.)
Yang lebih penting dari rakaatnya Para ulama mengingatkan, jangan sampai salat taubat berhenti sebagai seremonial sementara pekerjaan taubatnya — mengembalikan hak, menghentikan dosa — tidak dilakukan. “Tuan utang itu tidak menerima sedekah; ia hanya menerima pembayaran utang”, kata sang penceramah.

Soal “Mandi Taubat”

Di sebagian masyarakat kita beredar amalan mandi taubat: mandi besar disertai niat bertaubat sebelum salat taubat. Cara ini memang dijumpai dalam praktik sebagian pesantren dantharekat, dan dapat berguna sebagai lantaran (wasilah) penyegaran diri dan pemisahan antara “hidup lama” dan “hidup baru”.

  • Yang diperselisihkan: tidak ada dalil khusus berupa hadis sahih yang memerintahkan mandi taubat sebagai syarat atau amalan tersendiri.
  • Yang disepakati: mandi besar tetap merupakan perbuatan baik bila memang dibutuhkan untuk bersuci dari hadas besar atau sebagai kebersihan.
  • Sikap yang aman: dahulukan yang jelas dalilnya — wudhu dan salat taubat; bila ingin mandi taubat, pahami ia sebagai kebiasaan yang diperbolehkan, bukan syarat sahnya taubat.

Perlu dicatat pula: dalam tasawuf, “hadas” yang menghalangi seseorang dari Al-Qur’an dan zikir bukan hanya hadas jasmani, melainkan hadas rohani — kotoran dosa. Karena itu “air” pertama yang harus dipakai bukan air keran, melainkan air taubat.

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

“Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

QS. Al-Baqarah [2]: 222

Contoh Penerapan Harian

Taubat yang sehat akhirnya berbentuk kebiasaan. Beberapa contoh yang bisa langsung dicoba:

KebiasaanTujuannya
Istighfar 100 kali sehari, mulai subuhMengikuti sunnah Nabi ﷺ yang bertaubat seratus kali setiap hari; menjaga hati tetap lunak.
Muhasabah sepuluh menit sebelum tidurMenghitung satu per satu kekeliruan hari itu, lalu menutupnya dengan istighfar dan tekad perbaikan.
Daftar hak yang belum ditunaikanMenuliskan utang, janji, atau nama orang yang pernah dizalimi, lalu menuntaskannya satu demi satu.
Qadha puasa atau salat yang tertinggal, sedikit-sedikitMelunasi “utang” ibadah sehingga amal sunnah tidak tertahan.
Salat taubat setiap kali tergelincirMengembalikan kesadaran dengan cepat, tidak membiarkan dosa menjadi kebiasaan.
Sedekah harian, sekecil apa punAmal penghapus yang menyertai taubat, dan pembersih jejak dosa.

Kunci yang paling sering dilupakan

Adakan perubahan. Allah berfirman: “Innallāha lā yughayyiru mā bi qaumin ḥattā yughayyirū mā bi anfusihim” — Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Selama kita tetap asyik dengan dosa, sulit bagi keadaan kita untuk dirubah menjadi baik.