ت Taubat
Halaman 4 dari 8

Dalil Al-Qur’an & Hadis tentang Taubat

Semua dorongan untuk bertaubat berdiri di atas wahyu. Urutan dalil berikut disusun mengikuti alur pembahasan: panggilan Allah, keluasan ampunan-Nya, perintah taubat nasuha, keteladanan Nabi ﷺ, lalu keutamaan orang yang bertaubat.

Panggilan Allah kepada Hamba yang Berdosa

Dalil yang paling sering dibawakan dalam kajian sumber situs ini adalah hadis qudsi berikut. Perhatikanlah susunannya: Allah lebih dulu menyebut kekurangan kita, kemudian langsung menyandingkannya dengan keluasan ampunan-Nya.

يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

Yā ‘ibādī, innakum tukhti’ūna bil-laili wan-nahār, wa anā aghfirudz-dzunūba jamī‘ā, fastaghfirūnī aghfir lakum

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang hari, dan Aku mengampuni dosa seluruhnya. Maka mohon ampunlah kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni kalian.”

Hadis qudsi, diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Dzarr al-Ghifari r.a.

Dari hadis ini sang penceramah menarik satu kesimpulan: jangan sampai dosa terasa lebih berharga di mata kita dibanding nilai taubat, sehingga kita enggan meminta ampun. Dosa kita — sebesar apa pun — kecil dibanding ampunan Allah. Sebagaimana ungkapan yang sering dikutip para ahli hikmah:

وَمَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ عِنْدَنَا مِنْ ذُنُوبِنَا

Wa maghfiratuka ausa‘u ‘indanā min dzunūbinā

“Ampunan-Mu, ya Rabb, jauh lebih luas bagi kami daripada dosa-dosa kami.”

Ungkapan yang biasa dikutip dalam doa dan syair hikmah

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Wa mā kānallāhu mu‘adzdzibahum wa hum yastaghfirūn

“Dan tidaklah Allah akan menyiksa mereka selama mereka beristighfar.”

QS. Al-Anfal [8]: 33

Perintah Taubat Nasuha

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةٗ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّ​َٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ

Yā ayyuhal-ladzīna āmanū tūbū ilallāhi taubatan naṣūḥan ‘asā rabbukum an yukaffira ‘ankum sayyi’ātikum wa yudkhilakum jannātin tajrī min taḥtihal-anhār

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

QS. At-Tahrim [66]: 8

Kata naṣūḥan dipahami para ulama sebagai taubat yang murni, yang menasihati pelakunya sendiri, dan yang benar-benar mengubah arah hidup — bukan sekadar pengakuan lisan.

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

Innallāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

QS. Al-Baqarah [2]: 222

Janji Penerimaan dan Penghapusan Dosa

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Qul yā ‘ibādiya al-ladzīna asrafū ‘alā anfusihim lā taqnaṭū min raḥmatillāh, innallāha yaghfirudz-dzunūba jamī‘an innahū huwal-ghafūrur-raḥīm

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”

QS. Az-Zumar [39]: 53

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ

Illā man tāba wa āmana wa ‘amila ‘amalan ṣāliḥan fa ulā’ika yubaddilullāhu sayyi’ātihim ḥasanāt

“Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh; maka mereka itu, Allah akan mengganti kejahatan mereka dengan kebaikan.”

QS. Al-Furqan [25]: 70

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Fatalaqqā Ādamu min rabbihī kalimātin fatāba ‘alaih, innahū huwat-tawwābur-raḥīm

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

QS. Al-Baqarah [2]: 37
Kesimpulan dari rangkaian ayat ini Allah memerintahkan taubat, menjanjikan penghapusan dosa, menyatakan suka kepada orang yang bertaubat, bahkan menjanjikan penggantian keburukan menjadi kebaikan — dan menutup semua itu dengan larangan berputus asa. Tidak ada satu pun celah untuk berkata “dosa saya terlalu besar”.

Keteladanan Nabi ﷺ

Dalam kajian yang menjadi sumber utama situs ini, keteladanan Nabi ﷺ dijadikan puncak argumen. Orang yang tidak memiliki dosa pun bertaubat setiap hari — masak kita yang berlumuran dosa menolak bertaubat?

أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ، فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ مَرَّةٍ

Ayyuhan-nās tūbū ilā rabbikum, fa innī atūbu ilaihi fil-yaumi aktsara min mi’ati marrah

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Tuhan kalian, karena sungguh aku sendiri bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari seratus kali.”

HR. Bukhari & Muslim

Ada hadis lain yang menyebut bilangan tujuh puluh kali. Perbedaan ini karena Nabi ﷺ menyebut “lebih dari seratus” dalam riwayat Ibnu Umar, dan “tujuh puluh kali” dalam riwayat lain — semuanya menunjukkan keajekan, bukan angka yang dibatasi. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa taubat itu bukan peristiwa sekali seumur hidup, tetapi nafas harian seorang hamba.

Bertaubat dari apa, jika tidak berbuat dosa?

Nabi ﷺ bertaubat antara lain dari kekhawatiran sesaat, dari kelalaian hati, dan dari hal-hal yang bagi manusia lain tidak dianggap dosa. Inilah yang dalam kajian disebut sebagai taubatnya puncak kelas: taubat dari dosa besar adalah kelas kita, taubat dari dosa kecil sudah lulus, sedangkan taubat dari perkara makruh dan kelalaian adalah kelas para kekasih Allah.

Hadis Keutamaan Orang yang Bertaubat

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

At-tā’ibu minadz-dzanbi kaman lā dzanba lah

“Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak memiliki dosa.”

HR. Ibnu Majah & Al-Baihaqi, dari Ibnu ‘Abbas r.a.

الْمُسْتَغْفِرُ مِنَ الذَّنْبِ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَيْهِ كَالْمُسْتَهْزِئِ بِرَبِّهِ

Al-mustaghfiru minadz-dzanbi wa huwa muqīmun ‘alaihi kal-mustahzi’i bi rabbih

“Orang yang meminta ampun dari dosanya namun ia masih tetap mengerjakannya, ia seperti orang yang menghina Tuhannya.”

HR. Al-Baihaqi & Ibnu ‘Asakir, dari Ibnu ‘Abbas r.a.

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Kullu banī Ādama khaṭṭā’, wa khairul-khaṭṭā’īnat-tawwābūn

“Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang banyak bertaubat.”

HR. Tirmidzi & Ibnu Majah, dari Anas bin Malik r.a.

لَوْ لَمْ تَكُونُوا تُذْنِبُونَ لَخَلَقَ اللَّهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

Lau lam takūnū tudznibūna lakholaqallāhu khalqan yudznibūna fa yaghfiru lahum

“Kalau sekiranya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa lalu Dia mengampuni mereka.”

HR. Muslim, dari Abu Hurairah r.a.

Ungkapan Ulama dan Syair Hikmah

كَذَبَ مَنْ يَدَّعِي مَحَبَّتِي، فَإِذَا جَنَّ اللَّيْلُ نَامَ عَنِّي

Kadzaba man yadda‘ī maḥabbatī, fa idzā jannal-lailu nāma ‘annī

“Dusta orang yang mengaku mencintai-Ku, tetapi bila malam tiba ia tidur meninggalkan-Ku.” Dituliskan pula: “Alaisa kullu muḥibbin yuḥibbul-khalwata ma‘a ḥabībih?” — bukankah setiap orang yang mencintai ingin berdua-duaan dengan kekasihnya?

Ungkapan yang dinisbatkan pada kitab Zabur, sering dikutip dalam kajian tasawuf

إِذَا لَمْ تَقُمْ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ فَاعْلَمْ أَنَّ ذُنُوبَكَ قَدْ كَبَّلَتْكَ

Idzā lam taqum ‘alā qiyāmil-laili fa‘lam anna dzunūbaka qad kabbalatka

“Bila engkau tidak mampu bangun untuk salat malam, ketahuilah bahwa dosa-dosamu telah membelenggu dan menjeratmu.”

Imam Hasan al-Bashri, kepada muridnya yang mengeluh sulit bangun malam
Catatan penggunaan Sebagian ungkapan pada bagian ini beredar luas sebagai nasihat hikmah dan dinisbatkan pada sumber yang berbeda-beda. Kami menampilkannya dengan penyebutan sumber apa adanya; untuk kebutuhan kajian formal, silakan merujuk kitab aslinya sebagaimana tercantum di halaman Sumber.

Setelah dalil-dalil ini, pertanyaan yang tersisa bukan lagi “apakah saya perlu bertaubat”, melainkan “dengan cara apa saya memulainya”. Untuk itu, lanjutkan ke halaman Tata Cara Bertaubat dan halaman Dzikir & Doa.